Home arrow Articles arrow Health arrow Perlukah Antibiotik Saat Flu
Newsflash

Kini dibuka kembali kelas Reguler, silahkan hubungi (021) 9310.0374 / (021) 919.888.82 / (021) 9369.8077. Periode 66 mulai efektif dibuka per 01 Septemberi 2011.

 
Main Menu
Home
- - - - - - -
Taekwondo School
Special Course
Taekwondo Trip
Event Organizer
- - - - - - -
About Us
Contact Us
BOM
IOSTA
- - - - - - -
Gallery
Articles
Links
News
FAQs
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday79
mod_vvisit_counterYesterday111
Who's Online
We have 17 guests online
Login Form





Lost Password?
powered_by.png, 1 kB

Perlukah Antibiotik Saat Flu Print E-mail

VIVAnews - Minum antibiotik saat terserang flu dan batuk sudah cukup umum dilakukan untuk meredakannya. Tapi, jangan sembarangan meminum obat antibiotik. Siapa tahu, antibiotik yang Anda minum diproduksi untuk pengobatan penyakit berat.

Berdasarkan sebuah penelitian di Inggris, sekitar 10 juta orang Inggris mendapat resep antibiotik yang salah dari dokter, meski tak berpengaruh negatif pada penyakitnya. Hanya, terlalu sering mengonsumsi antibiotik akan mendorong resistensi obat.

Sejak 2008, Departemen Kesehatan Inggris melakukan kampanye menghentikan penggunaan antibiotik untuk penyakit ringan seperti batuk, pilek dan sakit tenggorokan.

Tahun ini, National Institute for Health and Clinical Excellence (Nice) juga mengeluarkan pedoman untuk dokter agar tidak memberikan obat-obatan tertentu, termasuk antibiotik, kepada pasien penyakit ringan, seperti infeksi telinga atau bronkitis. Meski demikian, antibiotik masih  secara luas digunakan untuk mengatasi berbagai penyakit infeksi virus di Britania.

Seperti VIVAnews kutip dari Telegraph, Komisi Eropa menemukan, 42 persen orang menerima antibiotik dalam 12 bulan, saat terserang flu, sakit tenggorokan, pilek, batuk atau bronkitis yang disebabkan virus. Sebagian besar meminum antibiotik yang tidak tepat.

Prof Mark Enright, mantan profesor Epidemiologi Molekuler di Imperial College London, mengatakan, "Dokter meresepkan sedikitnya dua kali lipat resep antibiotik daripada yang kita butuhkan."

"Hanya satu dari lima infeksi pernapasan atas akibat bakteri yang merespons antibiotik. Walaupun sebagian orang mengerti bahwa antibiotik tidak berguna, namun mereka masih menginginkannya," katanya.

Prof Enright mengatakan kampanye pengurangan antibiotik sangat dibutuhkan untuk penanganan penyakit ringan. (pet)

Sumber : VIVAnews.com

 
Sponsored Links
Sponsored Links
Copyright © 2012 TaekwondoTETA.com|Taekwondo Jakarta|Taekwondo Indonesia|Taekwondo Korea. All Rights Reserved.
OwnBizz : Taekwondo TETA Logo and TETA Divisions are trademarks of Taekwondo TETA School.