Home arrow Articles arrow Miscellaneous arrow Membina Moral Lewat Pengasuhan Orangtua
Newsflash

Kini dibuka kembali kelas Reguler, silahkan hubungi (021) 9310.0374 / (021) 919.888.82 / (021) 9369.8077. Periode 66 mulai efektif dibuka per 01 Septemberi 2011.

 
Main Menu
Home
- - - - - - -
Taekwondo School
Special Course
Taekwondo Trip
Event Organizer
- - - - - - -
About Us
Contact Us
BOM
IOSTA
- - - - - - -
Gallery
Articles
Links
News
FAQs
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday79
mod_vvisit_counterYesterday111
Who's Online
We have 15 guests online
Login Form





Lost Password?
powered_by.png, 1 kB

Membina Moral Lewat Pengasuhan Orangtua Print E-mail

Dalam suatu pertemuan informal, beberapa orangtua menyatakan prihatin mengenai runtuhnya nilai-nilai moral bangsa kita. Di antaranya adalah terungkapnya banyak kasus korupsi, penganiayaan pada pasangan perkawinan, maupun perilaku ”bullying” di kalangan anak-anak sekolah. Mereka bertanya apa yang telah salah pada pengasuhan orangtua sebagai sumber pembentukan moral seseorang?

Untuk merespons hal ini, saya ingin membahas mengenai apa yang dimaksud dengan nilai moral dan perkembangan moral pada seseorang, kemudian bagaimana orangtua dapat meningkatkan nilai moral dalam keluarga. Pembahasan akan saya bagi dalam dua kali penulisan, mengingat terbatasnya tempat untuk rubrik ini.

Nilai moral

Dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (1991), istilah moral berarti ajaran tertentu, baik buruknya perbuatan, sikap, akhlak, budi pekerti, susila yang diterima oleh orang pada umumnya. Menurut Linda dan Richard Eyre (1993), nilai moral adalah standar perbuatan dan sikap yang menentukan siapa kita, bagaimana kita hidup dan memperlakukan orang lain.

Nilai yang baik bisa menjadikan orang lebih baik, hidup lebih baik, dan memperlakukan orang lain secara lebih baik. Adapun yang dimaksud dengan moralitas adalah perilaku yang diyakini banyak orang sebagai benar dan sudah terbukti tidak menyusahkan orang lain, bahkan sebaliknya akan menyenangkan orang lain.

Pasangan Eyre mementingkan 12 macam nilai moral yang perlu ditanamkan pada anak, yaitu kejujuran, keberanian, kemampuan mencari damai, percaya diri, disiplin diri dan sikap tahu batas, kemurnian, kesetiaan/dapat dipercaya, respek/hormat, cinta/kasih sayang, tidak mementingkan diri sendiri/kepekaan, baik hati dan keadilan/rasa belas kasihan (pembahasan lebih lanjut mengenai 12 nilai moral ini akan diberikan pada tulisan berikutnya).

Perkembangan moral dari segi psikologis

Berkembangnya aspek moral pada diri seseorang terjadi secara bertahap dan merupakan proses yang lama dan lambat. Para ahli psikologi perkembangan sepakat mengatakan bahwa bayi tergolong seorang yang nonmoral, dalam artian bahwa tingkah lakunya tidak dibimbing oleh norma-norma moral. Baru lambat laun ia akan mempelajari kode moral dari orangtua/pengasuhnya kemudian guru-guru dan teman bermainnya.

Perkembangan moral pada awal masa kanak (2-5 tahun) masih berada pada tingkat yang sederhana. Anak belum mampu mengerti prinsip-prinsip abstrak tentang benar dan salah. Dalam tahap ini, anak secara otomatis mengikuti aturan-aturan tanpa berpikir atau menilai. Ia menilai semua perbuatan sebagai benar atau salah berdasarkan akibat-akibatnya, bukan berdasarkan motivasi yang mendasarinya. Mereka berpikir bahwa perbuatan yang salah adalah yang mengakibatkan hukuman.

Dalam tahap awal, anak berorientasi patuh-dan-hukuman dalam arti ia menilai benar salahnya perbuatan berdasarkan akibat fisik dari perbuatan itu. Baru tahap berikutnya anak menyesuaikan diri dengan harapan sosial agar mendapat pujian. Pada masa ini anak belum mengembangkan hati nurani sehingga ia tidak merasa bersalah atau malu bila melakukan sesuatu yang diketahui sebagai sesuatu yang salah. Malahan ia takut dihukum atau berusaha untuk membenarkan perbuatannya untuk menghindari hukuman.

Pada usia 10-12 tahun, anak makin memperluas konsep sosialnya sehingga perbuatannya mencakup situasi apa saja, lebih dari hanya situasi khusus. Pengertian yang kaku tentang benar-salah, yang dipelajari dari orangtua, menjadi berubah dan anak mulai memperhitungkan keadaan-keadaan khusus di sekitar pelanggaran moral.

Relativisme moral menggantikan moral yang kaku. Misalnya, bagi anak 5 tahun, berbohong selalu buruk, tetapi bagi anak yang lebih besar disadari bahwa dalam beberapa situasi, berbohong dibenarkan dan karena itu berbohong tidak selalu buruk.

Masa remaja

Memasuki masa remaja, ia diharapkan mengganti konsep-konsep moral yang berlaku khusus di masa kanak-kanak dengan prinsip moral yang berlaku umum dan merumuskannya ke dalam kode moral yang akan berfungsi sebagai pedoman bagi perilakunya. Sekarang, ia harus mengendalikan perilaku sendiri, yang sebelumnya menjadi tanggung jawab orangtua dan guru.

Ia diharapkan mampu mempertimbangkan semua kemungkinan untuk menyelesaikan suatu masalah dan mempertanggungjawabkannya. Jadi ia dapat memandang masalahnya dari beberapa sudut pandang dan menyelesaikannya dengan mengambil banyak faktor sebagai dasar pertimbangan.

Remaja tidak lagi begitu saja menerima kode moral dari orangtua, guru, dan teman sebayanya. Saat ini, ia ingin membentuk kode moral sendiri berdasarkan konsep tentang benar dan salah yang telah diubah dan diperbaikinya agar sesuai dengan tingkat perkembangan yang lebih matang dan yang telah dilengkapi dengan hukum dan aturan yang telah diperoleh sebelumnya.

Beberapa remaja bahkan telah melengkapi kode moral mereka dengan pengetahuan yang diperoleh dari pelajaran agama. Pembentukan kode moral terasa sulit bagi remaja karena ada ketidakkonsistenan konsep benar-salah yang ditemukannya dalam kehidupan sehari-hari.

Secara lambat atau cepat, remaja akan mengerti, misalnya, bahwa teman-teman dari berbagai latar belakang sosioekonomi, agama atau ras, mempunyai kode yang berbeda tentang salah-benar, bahwa kode moral orangtua dan guru sering lebih ketat dari kode teman sebayanya.

Dengan memahami berkembangnya nilai moral pada diri seseorang, diharapkan orangtua dapat menyesuaikan cara/metode pengasuhannya sesuai dengan usia sang anak.

Agustine Dwiputri, psikolog

Sumber : KOMPAS.com

 
Sponsored Links
Sponsored Links
Copyright © 2012 TaekwondoTETA.com|Taekwondo Jakarta|Taekwondo Indonesia|Taekwondo Korea. All Rights Reserved.
OwnBizz : Taekwondo TETA Logo and TETA Divisions are trademarks of Taekwondo TETA School.